Halaman

Tampilkan postingan dengan label #silent. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #silent. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Self Reflection : Tipu-tipu rumah kontrakan

Alhamdulillah masalah tagihan listrik sudah selesai. Telpon Kabel dan TV kabel semua statusnya memang sudah dinonaktifkan, walau harus kerja keras kami sendiri (tanpa campur tangan AN) yang mengurusnya. TV kabel malah sudah tercabut juga peralatannya 04 januari lalu. Tapi harusnya tagihan-tagihan ini masih akan terus mencarimu Mba AN.
 
Sejujurnya, pasti ada perasaan lega luar biasa karena satu persatu problem bisa kami lepaskan. Kami sudah secara sah tidak akan menanggung semua beban biaya yang ditimbulkan oleh si AN ini. Tapi kok rasanya ada yang aneh yaaa, masih takut saya ini membuka pintu saya untuk kembali dikontrakkan kembali. Masih baru memulai mencoba membuat list apa saja yang bisa saya dan pak suami jadikan pembelajaran kedepannya, utamanya tentang membuka kembali rumah kami untuk dikontrakkan.
 
Selain itu juga kok saya rasanya kasihan dan jujur saja agak menyayangkan baik itu pihak Indo*is*on dan juga Telkom, yang kurang kelihatan greget-nya untuk mengejar si oknum semacam AN ini. Padahal, saya juga sudah berusaha loh bekerjasama dengan memberitahukan balik ke pihak mereka semua informasi tentang AN yang saya tahu. Sampai sekarang ini yaa yang saya tahu yaa masih sama, AN masih melenggang santai (mungkin) di rumah kontrakannya yang baru sekarang, bahkan sudah pasang unit baru lagi mungkin di rumah itu... tetapi semoga kali ini kamu insap yaa mbak...*err sayangnya saya gak tau dimana dia mengkontrak sekarang, kalau saya tahu sudah pasti saya akan kasih wanti-wanti si pemilik rumah barunya agar waspada... ^^
 
Yaah semoga ada orang dari Telkom dan si TV kabel itu yang baca tulisan saya ini, terus bilanglah ke atasannya untuk bersemangatlah memberantas kejahatan semacam ini.. lah yaa situkan dirugikan juga sih..
 
Enihoo berbagai saran dan usulan, terus kami tanyakan ke senior-senior dikantor, tetangga rumah , orangtua atau mungkin ada yang iseng baca tulisan ini kalau mau kasih saran juga boleh loh *malah syenang sayanya*...tentang keamanan menyewakan/mengkontrakkan rumah. Sebaiknya apa sih tindakan preventif kita sebagai pemilik rumah tersebut.. Hiks sumpaah deh kami berdua sudah hampir dua tahun ini nyebur kesini aja masih berasa cupu, gak ngerti harus seperti apa biar gak kena kejadian kayak gini lagi.
 
Tapi mungkin coba kita list saja, beberapa kesalahan (yang waktu itu kami lakukan) yang bisa jadi dimanfaatkan orang lain untuk berbuat jahat ke kita.
 
Surat Perjanjian Sewa Rumah
Did :
  • Surat perjanjian sebenarnya sudah mengatur hal tentang pelarangan mengubah dan memasang apapun yang berkaitan dengan rumah tersebut. Semua harus dengan seijin pemilik rumah.
  • Penulisan nama dan data diri penyewa sangatlah minim, yang mana hanya terdiri nama, nomer KTP dan alamat yang kami tuliskan plek!persis KTP yang diserahkan, belum expired. Tapi minim info sekali. Keterangan penyewa bekerja dimana pun tidak ada, bahkan info tentang nama pasangan (istri/suami) tidak ada. bahkan kami gak tau dimana dia bekerja (fyi tapi pengontrak sebelumnya kami tahu dengan jelas dimana mereka bekerja loh, tapi yang ini kami benar-benar tidak tahu).
Next :
  • Mereview ulang tentang surat perjanjian ini dengan yang lebih detail termasuk akan ditambahkan poin tentang TV kabel dan juga sambungan telpon rumah, emm ada yang mau share contohnya ga ya temans? hehehe...kalau ada yang baik hati mau dunk saya di share hehehe...
  • Menambahkan form identitas si penyewa (jadi ada penulisan nama jelas, alamat rumah lengkap, email, telp, pekerjaan dan alamat tempat bekerja, identitas tentang kontak lain yang bisa dihubungi, jangan lupa no telp, alamat dan juga kejelasan status dengan si penyewa)
 
 
Dokumen Identitas Penyewa Rumah
Did :
  • Kami cuman punya satu lembar Fotokopi KTP (expired 2014) atas nama penyewa saja.
Next :
  • Harus ada ID penyewa yang lain selain KTP, yakni FC SIM dan KK (passport if needed)
  • Harus ada ID orang lain yang ikut tinggal disitu misal suami/istri/orangtua. ID harus berlapis berupa KTP, SIM (ditambah KK jika berbeda KK)
  • Perhatikan masa expired semua ID
  • Crosscheck semua alamat yang tertera disitu, kalau ada yang beda segera konfirm tanyakan dan pastikan alamat kontak yang bisa dihubungi
  • Beberapa saran mengatakan jangan diterima kalo bukan e-KTP, walaupun dengan berbagai alasan.
 
Saksi
Did :
  • Tidak ada saksi selain saya dari sisi pemilik rumah. Suami si AN kemarin sama sekali tidak ikut menuliskan nama sebagai saksi dan juga menandatangani surat perjanjian sewa rumah ini.
Next :
  • Mencantumkan istri/suami/orangtua/orang lain yang ikut tinggal di rumah sewa tersebut sebagai saksi
  • Ada saran supaya melibatkan tetangga/RT setempat sebagai saksi (well akan dipertimbangkan)
 
Kunjungan Berkala
Did :
  • Sama sekali tidak pernah berkunjung ke rumah yang sudah dikontrakkan, alasannya untuk kepentingan rasa nyaman si penyewa rumah. Kontrol selama ini dilakukan melalui tetangga rumah melalui HP.
Next :
  • Ada saran supaya sekali waktu mendadak kunjungilah penyewa tersebut, hitung-hitung memupuk silaturahmi sekalian bisa melihat langsung aktivitas penyewa tanpa tersetting. Syukur malah bisa menjalin silaturahmi yang apik.. *ehmm nice ide, terimakasih yaa..
  • Kalau engga coba lihat saja dari jauh sekali waktu aktivitas si penyewa
  • Kalau masih enggan juga, coba saja silaturahmi dengan tetangga terus sambil melipir bilang sekalian mampir tadi ada urusan sedikit dengan tetangga atau urusan RT hihihi... *namapun usaha kepo yaa bok...
 
 
Penyerahan Kunci di akhir masa sewa/kontrak
Did :
  • Suka banget ngegampangin, karena menganggapnya sudah dekat jadi main iya aja waktu dibilang kunci dikembalikan hanya nitip tetangga saja.
Next :
  • Serah terima kunci masuk dan keluar masa sewa harus langsung dengan pemilik. Jika gak bisa pada saat weekday mau gak mau harus dischedulekan pada saat weekend. (PR banget nih ngelawan rasa males pergi-pergi pas wiken)
  • Setidaknya dua minggu sebelum berakhir masa kontrak, cek semua tagihan-tagihan yang ada. (listrik, sampah, iuran RT dan iuran lain jika ada)
  • Saat akan serah terima kunci, cek seluruh keadaan bangunan, termasuk kabel-kabel aneh lain yang terpasang tiba-tiba.
  • Jika ada tagihan yang belum diselesaikan, sodorkan surat pernyataan tentang bagaimana dan kapan akan segera diselesaikan, cantumkan duedate dan tanda tangan diatas materai.  
Naah itulah list PR saya nanti jika sudah siap akan mengkontrakkan rumah lagi, semoga berikutnya yang menyewa adalah orang baik, sayang sama rumah kami terus dibeli #eh..  yawislah kabar-kabarin yaa kalau ada yang mau nyewa rumah di daerah Tanah Baru Depok.. :) #malah buka lapak wkwkwk..
 

Senin, 06 Januari 2014

Tipu-tipu si Pengontrak Rumah - 3

Lanjutan dari cerita tentang si AN (yang jahatnya gak kira-kira ini buat saya..) sebelumnya ada disini dan disini :
 
Akhirnya kami memutuskan hari itu juga bahwa THIS IS WAR. Kami tidak akan main-main lagi sekarang, dan tidak akan membiarkan si Mba AN ini mempermainkan kami lagi. Well OK dari segi pendidikan, kami yakin dia tidak akan cantik mainnya *sorry to say this but not mean to.., tapi dari segi pengalaman hidup well siapa yang tau.. Adakan pepatah bijak yang bilang "Kalau kepepet manusia itu akan bisa jadi superb!, both in good or bad things". Okaii mungkin si Mba AN akan jauh lebih pintar berkelit dan bersembunyi, karena sudah terbiasa melakukan ini, Tapi kami akan terus menghantuimu Mba AN #setel backsound serem...ihihihihi... *malah jadi takut sendiri saya nya.
 
Mungkin ini sekaligus bisa jadi tips, jika ada temans yang lagi terkena kasus serupa dengan kami, dimana ada orang yang coba menipu dan bermaksud membebankan semua tagihannya ke rekening kita *Hell No way Mba AN!*
  1. Tetaplah tenang. Bekerjasama dengan orang satu tim (Dalam hal ini tentu saja Pak Suami).
  2. Menginventaris / membuat list semua kerugian yang ditimbulkan oleh si oknum (Mba AN). Ada tiga masalah besar yang diciptakan oleh si mba AN ini ke kami, yang pertama adalah tunggakan listrik dua bulannya, plus waktu yang mepet dengan bulan ketiga, yang artinya taruhannya adalah listrik kami akan dibongkar jika tidak segera dilunasi. Yang kedua adalah sambungan TV Kabel Indo*is*on dengan masa kontrak minimal satu tahun, yang setelah diusut dia pasang sejal awal dia kontrak, dan baru melakukan dua kali pembayaran saja (ada tunggakan lima bulan sampai Desember ini plus biaya terminasi jika belum satu tahun ingin diputus sambungannya, sebesar 400 rebu sajah). Yang terakhir adalah sambungan telpon kabel dan internet Sp**dy dengan tunggakan 3 bulan belum terbayar. Total damage tentunya berjuta-juta, dan itu sangat besar buat kami.
  3.  
  4. Hubungi satu persatu pihak yang terkait, bicarakan solusi bukan hanya komplain.
  5. Kalau si oknum terus berkelit, jadilah detektif mendadak (kata lain dari Kepo hehehe..). Pokoknya gali info sebanyak-banyaknya dan sekepo-keponya. #Kepo itu ternyata bisa jadi hal positif loh
  6. Jalin kerjasama yang baik dengan pihak yang juga sama-sama dirugikan, hindari marah-marah.
  7. Untuk kasus oknum yang suka berkelit seperti AN ini, saya dan pak suami berbagi peran sebagai GoodCop dan BadCop dalam berkomunikasi. Maksudnya GoodCop itu adalah berperan sebagai negosiator, semua SMS atau telpon si oknum masih dilayani baik-baik dan sabar. Badcop muncul jika si oknum mulai nampak bermain-main, terkesan menyepelekan atau bahkan dengan sengaja mulai memutus komunikasi. Hehehe bingung? intinya mah kalau sudah menye-menye gak ada kemajuan solusi, badcop datang menggempur, tembak sana sini, #ciaaat #waaaattaw..#gubrak gubruk.. #hajar..ahahahaha keliatan dong yaa siapa yang jadi badcop.. *sambil dadah dadah...
  8.  
  9. Jangan lupa berdoa supaya dimudahkan semuanya dalam penyelesaian masalah yang ada.
  10. Simpan energi, untuk menyelesaikan masalah. *Thanks to Pak suami yang sama-sama terus saling mengingatkan #lope yu dah ah...
 
TV Kabel
Pertama yang saya hubungi adalah Indo*is*on. CS hari pertama yang melayani keberatan kami sangat kooperatif. Dia benar-benar mau mendengarkan dan sangat solutif, setidaknya hal ini bisa membuat konsumen yang lagi galau dan marah ini menjadi lebih tenang. Saran saya, kalau memang saat komplain dapet CS yang kurang OK, tutup telpon dan coba telpon kembali. Disarankan untuk segera melayangkan email/surat keberatan kepada Customcare Indo*is*on. Hari itu juga saya layangkan surat keberatan saya, lengkap beserta breakdown history keterlibatan hubungan saya dan si Mba AN yang hanya sebagai pengontrak dan tidak ada ijin dari pemilik sah rumah tersebut atas pemasangan TV kabel tersebut. Jangan lupa juga dicantumkan perihal keberatan atas semua biaya yang muncul akibat adanya pemasangan TV kabel tanpa ijin tersebut dirumah kita, baik itu sisa tagihan, sisa tunggakan, biaya pinalti dan atau biaya lainnya. dan juga sebaiknya segera request untuk  pencopotan atau pemindahan alat, baik itu antena-kabel maupun decoder dari alamat rumah kita. Kalau perlu sih kasih aja itu alamat si Oknum AN. *Nah, kalau yang ini kami memilih untuk main cantik Hehehe...*wink..
Saat ini pihak Indovision baru meng-agenda-kan pencopotan unit ini wiken nanti, semoga saja benar-benar te-realisasi yaa.

#Update : Semua komponen unit sudah selesai diserahterimakan kembali ke Indo*is*on, sabtu (4 Jan 2014) kemarin. Ada cerita lucu, jadi penagih TV Kabel ini nelpon ke HP mba AN dia cerita begitu diangkat oleh Mba AN dan bilang dari Indo*is*on langsung seketika itu juga dimatikan, dan HP mendadak mati. Dan tambahan informasi dari petugas ini, katanya kasus yang seperti kami ini cukup sering terjadi loh, tetapi biasanya konsumen/pemilik rumah malas mengurus dan cenderung membiarkan, err..IMHO bukannya ini sama saja kita turut serta men"ternak"kan kejahatan yaa? So please anyone..kalau memang harus dilaporkan, please make a move ^^
 
Sambungan Telpon Rumah
Lalu pihak kedua yang kami hubungi adalah Telkom tentu saja. Online telponnya sejujurnya kurang membantu. Tidak ada tercatat, nama pemasang telpon baik atas nama kami berdua (Saya dan Pak Suami) ataupun si oknum AN itu sendiri. Cukup puyenk.. Akhirnya setelah menelpon bolak-balik dan dipingpong kesana kemari oleh #108 dan #147, disarankan untuk langsung ke Plasa Telkom terdekat saja *err...tetep jauh juga buat kami..tapi yaa mau bilang apalagi.. Besoknya pas saya kesana (pas kebetulan lagi cuti juga sih), alhamdulillah dapet CS yang lagi-lagi sangat kooperatif, dia membuat laporan pengaduan yang sangat lengkap dan terperinci. 
Sayang Pak Bos nya gak ada waktu itu, jadi masalah belum langsung selesai. Hari Senin nya barulah kami bisa berbicara dengan kepala Plasa Telkom Depok, Pak NY, beliau mengatakan ini memang termasuk kesalahan Telkom kenapa bisa bebas terpasang tanpa seijin pemilik rumah. Tapi mereka juga akan melakukan internal investigasi sendiri, dan akan juga mengejar si Mba AN ini hehehe...*tuh jadi tekenal kan mba karena banyak yang nyariin..
Alhamdulillah juga sih, si bapak bilang kami terbebas dari segala biaya yang ada. Status sambungan sudah diblokir, baik telpon masuk maupun keluar, termasuk koneksi internetnya. Tetapi si bapak juga akan mengupdate lagi bila si oknum dan si pemasangnya sudah ada kejelasan akan segera menghubungi kita lagi. Saat mengurus pengaduan ke Plasa Telkom ini, jangan lupa membawa :

FC AJB/Sertifikat Rumah, FC KTP a/n pemilik rumah, surat perjanjian sewa rumah dengan si Oknum AN, FC KTP si Mba AN, plus saya kasih itu Print Foto closeup si AN, buat dipasang di papan wanted-person nya hehehe.. *Duh selamat ya Mba AN makin terkenal deh kamu sekarang..
 
Di sini jangan lupa minta print-out telpon keluar dari nomer yang terpasang dirumah kita itu. Plus juga alamat lengkap dan nama pemilik rumahnya. Bekal inilah yang setidaknya bisa buat kami mengejar mba AN untuk melunasi pembayaran listriknya itu.
 
Tunggakan Listrik
Pihak terakhir adalah PLN. Gak main-main, kalau yang ini mau gak mau harus diurus karena menyangkut langsung ke kami.  Kwh sudah dipakai, tagihan sudah berjalan, tunggakan pun gak main-main sudah dua bulan. Eksekutor PLN untuk bongkar listrik dirumah kami juga pasti sudah disiapkan, jika tunggakan berjalan sampai bulan ketiga. Ikhlas gak ikhlas, pembayaran dari kantong kami mendadak juga harus disiagakan #sedih. Mau marah! Lah iya gimana engga, ini lagi ngumpulin uang sekolahnya Devdan kok yaa kamu tega sih mbak, jahat begituh.
Di hari yang sama, kami ke Telkom tadi, kami terus menelpon si AN ini, tegas diemailpun kami nyatakan akan kami kejar kemanapun kalau sampai akhir bulan ini, semua urusan tidak diselesaikan. Mba AN menelpon dan ternyata dia sedang ada di PLN, saat kami kontak balik untuk menanyakan dua hal lain diatas seperti biasa telponnya tidak aktif. Bergegaslah saya dan pak suami kesana berbekal satu nama yang sering dia sebut tadi, Bapak J.
Alhamdulillah ketemuan sama bapak J dan diperlihatkanlah berkas laporannya, dan terpampanglah satu deret no HP atas nama AN yang lain, kami catat dan tentu saja satu SMS tekanan kami kirimkan. Ajaib, semenjak itu HP yang diawal dibilang sering error dan selalu sengaja dimatikan, selalu dalam posisi menyala, walau pastinya setiap telpon atau SMS kami selain masalah listrik tetap diacuhkan.

Minggu itu, mau gak mau saya harus menjadi pe-neror *demi stabilisasi sambungan listrik dirumah saya ini*. Kecanggihan dunia internet, terkadang tidak selalu menyesatkan. Ada info berguna yang bisa dengan mudahnya kita dapatkan dari puluhan sosial media disitu. Daftar list nama keluarga si AN ini dengan mudah kami dapatkan. Rekam jejak koordinat hampir semua keluarganya bisa kami catat. Disinkronkan dengan data dari Telkom, maka data lengkap nama. alamat rumah dan telpon masing-masing sudah tersimpan rapi di agenda kerja saya. Double save juga tentunya hehehe... Survei ke rumah dan tempat kerja orangtuanya adalah salah satu yang kami lakukan, semua info anaknya sementara kami simpan. Karena sejujurnya kami ini paling malas ngerusuhi orang lain (maksudnya disini adalah Orangtua dan anak AN, sementara ini yang nakal kan si AN ituh), maka kami tidak (atau belum) melakukan "sowan" ke rumah orang terdekat AN tersebut. Kami hanya mulai menyalakan bomb waktu saja, kami beri kesempatan untuk si AN ini menyelesaikan listrik paling lambat 27 Desember sore, jika tidak tentu saja Hukum Sosial Keluarga akan segera dijalankan. #Hehe nampak kejam? bukan menurutku, ini adalah batas dari yang namanya toleransi. AN dan mungkin juga si suaminya sadar, bahwa kami telah memegang hampir semua kartu AS mereka, jadi sementara tidak terasa ada usaha mereka untuk melarikan diri. Dan alhamdulillah hari itu juga tagihan listrik kami menjadi nol lagi.

Sementara ini alhamdulillah satu persatu dipermudah menyelesaikannya... dan perjuangan lainnya Insyaallah masih akan dilanjutkan...
 
 

Tipu-tipu si Pengontrak Rumah - 2

Lanjutan dari cerita yang ini..
 
Jadi, hari itu akhir bulan November 2013 si Mba AN mulai dengan memundurkan waktu mengembalikan kunci, alasannya belum sempat final pindahan. Dan karena akhir bulan November, kami ada acara diluar kota, yang juga harus disambung dengan datang ke nikahan sepupu saya di salah satu kota pantura sana *ehem...yang sebenarnya justru didominasi dengan wisata kuliner terselubung hihi..* Maka dengan sangat terpaksa, saat proses pengembalian kunci rumah harus kami titipkan lewat tetangga sebelah rumah kami yang alhamdulillah baik hatinya. Itupun dengan wanti-wanti ke si Mba AN untuk memberikan bukti pelunasan listrik dan iuran RT, alasan mba AN tagihan biasanya muncul setelah tanggal 5, dan dia biasanya akan membayar setelah tanggal itu. #Inilah kebodohan pertama yang kami lakukan karena percaya begitu saja sama Mba AN ini.
 
Minggu depannya, saat sudah kembali ke Jakarta. Kami telpon tetangga kami dan sudah konfirm bahwa kunci sudah di tangan beliau. Iseng sajalah saya cek web nya PLN dan memasukkan nomer pelanggan kami. Terteralah disitu tagihan per bulannya, tapi tanpa keterangan apakah sudah terbayar atau belum. Entah ada perasaan ingin tahu atau gimana, akhirnya meluncurlah saya ke ATM saat itu juga. Dan kagetlah saya, bahwa ternyata listrik yang belum terbayar itu dua bulan sajah sodara-sodara, dan angkanya pun fantastis nyaris menyentuh 900 ribu. #kebodohan kedua karena baru realize dua bulan belum bayar, which is kontradiktif dengan statemen dia yang bilang, bahwa pasti setelah tanggal 5 tiap bulannya dia akan bayar.
 
Mulai murkalah saya, karena sudah mendekati pertengahan bulan Desember, tapi masalah ini belum juga beres. Setiap ditanya, jawabannya nanti dan nanti, dan terakhir dia bilang paling lambat tanggal 20 pasti akan dibayarkan. Dia bilang dia akan komplain ke PLN karena pasti ada salah catat nomer meter disini. Okai, masih kami ikutin saja ini kemauannya dese yaa... 
 
Tanggal 14 Desember, kamipun meluncur kerumah kami itu hanya untuk mengambil kunci dan ternyata listrik kami sudah diputus saja dong sama PLN plus dapet surat cinta penyegelan..omaigot..apa-apaan ini #kebodohan ketiga karena gak sadar kalau udah dua bulan gak bayar berturut-turut akan disegel PLN.. Dan pak suami baru menyadari kalau ada kabel asing yang ada dirumah kami itu, yang kalau dilihat dan dirunut itu adalah sambungan telpon kabel. #luarbiasaaah.. Kenapa bisa ada ini kabel telpon, kami kan gak ada sama sekali kasih ijin untuk pasang ini itu dirumah yang statusnya kami kontrakkan ini.
 
Semakin murka saja lah saya, tetapi another part kebodohan yang kami lakukan adalah terus mengikuti saja scenario si Mba AN ini. Yang dia bilang bapaknya orang PLN lah sehingga tau ini itu dan segala macam, yang katanya gak mungkin disegel sama PLN kalau rumah kosong dan tergembok. Hai heloow mbak AN *tampar pakai surat segel PLN!
 
Mulai dari situ, telpon yang bersangkutan sudah on-off. Teror SMS saya yang nanya update kelanjutan penyelesaian ini tentu saja berbalas kosong.
 
Puncaknya adalah mulai tanggal 20an Desember. HP nya benar-benar dimatikan. Kurang ajar banget yaa.. Memang sih kalau dilacak ke PLN yang 123, memang ada komplain bahkan nomer komplainnya pun saya catat, tentang salah itung kwh ini. Lah tapi mana ini penyelesaiannya. Tiga bulan gak bayar berturut-turut itu listrik rumah saya dibongkar je taruhannya. Sama dengan pasang listrik baru. Gilee aja lu ndro..! Libur natal, iyes 25 Desember, pak suami meluncur ke TKP sendirian (bukannya liburan keluarga yaaa hahaha padahal hari itu kayaknya si Mba AN lagi hepi-hepi liburan ke OceanPark BSD yee..), rencananya mau merunut kabel telpon itu dipasang dimana. Curiga kami awalnya itu nyambung ilegal gitu ke rumah temennya, jadi setidaknya kami bisa ketemulah satu temennya itu. Plus sekalian ngecek ke RT dimana alamat KTP yang hampir bulukan itu dikasih.
 
Hahaha..bukannya ketemu sama rumah temennya, Pak Suamih malah dapet kejutan lain dari ulah si Mba AN.. yup mereka juga pasang TV Kabel disini. #Hahaha kalau dilihat-lihat sebenernya kesian banget ya si Mba AN ini..pengen hidup nikmeh dengan segala fasilitas terpasang, yaa tapi kok malah nyusahin orang lain, plus pakai gak mau bayar sisa tagihannya pulak. Ini pinter apa keji ya? Mau enak tapi kok ya gak mau bayar.. Investigasi tentang telponpun juga terus dilanjutkan. Penasaran kenapa ini telpon bisa ilegal terpasang disini, dan penasaran juga berapa tagihan yang dia tinggalkan.. #siap-siap pengsan ini saya..

Oia KTP nya setelah dilacak ke RT yang ngeluarin KTP nya ini, dia gak tau loh hehehe..kemungkinan KTP hasil nembak katanya. #omaigot Indonesiaku sayaang...
 
 
 

Tipu-tipu si Pengontrak Rumah - 1

Seperti yang pernah aku bilang dipostingan ini, bahwa di akhir 2013 kemarin kami sempet dapet cobaan yang kurang menyenangkan. Ceritanya lagi belajar bisnis kecil-kecilan, tepatnya sih memberdayakan rumah yang kebetulan kosong alias emang sengaja dibeli buat dikontrakkan. Lokasinya lumayan jauh dari rumah yang kami tinggali, tapi aksesnya masih deket banget sama kota...kota depok maksudnya hehehe...

Sudah sejak 2011 sebenernya rumah ini kami kontrakkan *buat tambahan modal nikah cita-citanya. Selama itu pula sebenernya aman-aman saja semuanya. Ada konflik kecil antara pemilik rumah dan si pengontrak itu mah biasa yaa.. Sebagai pemilik itu terkadang kita harus ikhlas, tapi juga memang harus bisa tegas.
 
Dan memang keputusan saya dan pak suami, pengen suasana pengontrak yang baru, maka kami putuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan yang sebelumnya dipakai oleh sebut saja Mr. A. Alasannya? umm... yaa pengen ganti suasana aja.. Kebetulan lagi ada sedikit rejeki juga, jadilah rumah sekalian dipermak dikit. Dicat sana sini, Gordyn dicuci, Pompa air yang dari awal kami beli suka ngambek juga kami perbaiki, Perabot yang ada disana juga dibersihkan debu-debunya plus sekalian cek-cek atap rumah yang teridentifikasi mulai bocor di beberapa tempat.
 
Setelah cantik dan bersih kembali, lapak jualan pun digelar. Sengajalah kami kumpulkan para calon pengontrak itu di hari sabtu dan minggu untuk melihat dan menawar jika tertarik. Alhamdulillah baru hari Sabtu kami open-house, hari itu juga rumah kami ada yang ingin menempati, tapi dia hanya mau enam bulan saja. Agak mikir sebenernya, tapi well yaah pertimbangan jarak rumah kami dengan rumah ini juga gak dekat dan juga faktor kesibukan kami, akhirnya sepakat kami ijinkan orang tersebut untuk mengontrak, dengan tentunya kami juga menginvestigasi apa dan siapakah gerangan orang tersebut. Gak mau kecolongan jika sang pengontrak ternyata adalah teroris*amit-amit jangan sampai deh ah, sambil ketok meja tiga kali*.
 
Sebut saja pengontrak ini adalah Mba AN *deuh pengen sebut nama sebenernya disini saking kesalnya sama orang ini*. Dia datang serombongan pakai mobil, tapi yang keluar cuman dia, suaminya dan anak kecil berusia 4-5 tahunan sepertinya. Dia lihat sana sini, periksa ini itu, cerita tentang dirinya jika saya tanya. Dia bilang dia adalah pengusaha Tour dan travel, eh atau agen travel kali yaa maksudnya. Kesannya adalah dia orang biasa saja. Tidak tercium ada niat jahat saat itu. Dia cuman bilang, dia pengen bisa tinggal disitu segera, karena kebetulan suaminya juga sudah suka dan dekat dengan rumah teman suaminya itu. Mepet terus gak pakai nawar awalnya, karena dia pasti menyadari ada calon pengontrak lain yang sedang ada disitu yang juga sedang mencoba "melobi" suaminya untuk mengontrak disitu. Yaah sebagai pedagang yang sedang kesenengan dagangannya laku yaa saya cuman bisa kipas-kipas aja dunk yaa dikursi *iyuuh ga ada AC kakak disitu* Belum tau aja enam bulan kemudian bakal ada kejadian apa Hahaha..
 
Deal dengan mba AN akhir bulan itu, dan selanjutnya kamipun hanya mengontrol rumah tersebut lewat tetangga sebelah rumah kami. Eh, gak disangka yaa, pertengahan Oktober tahun lalu tiba-tiba tetangga depan rumah menelpon dan bilang kalau si pengontrak sudah tidak tinggal disitu lagi. Kaget? pasti.. Tapi karena kami berprasangka baik, akhirnya kami telponlah dulu si pengontrak, apakah benar dan jika iya meminta tolong agar semua urusan pembayaran diselesaikan sesegera mungkin. Tetapi si Mba AN ini bilang ingin keluarnya disamakan dengan tanggal dikontrak saja, yakni akhir bulan November. Well kami setuju.
 
Kehidupan keluarga kamipun kembali berjalan seperti biasa. Kami sudah set kapan mau buka lapak jualan kami lagi, dan juga udah mulai survei harga pasaran terbaru didaerah situ.  
 
Hingga akhirnya datanglah minggu terakhir bulan November 2013. Dan disitulah kami mulai tau semua niat jelek si Mba AN.
 

Jumat, 13 September 2013

#4

Jakarta, 13 September 2013


Push the body while the doctor said NO

So here i am
 Making friends with all of you
 

 
 in a place called as cubicle
 
 
 



 
 
 
 




Kamis, 12 September 2013

#3

Tangerang Selatan, 12 September 2013


...

Yesterday,

Near mid of the night

finally knock down



Emergency felt as hell

For sure,

i'm OK

...

Rabu, 11 September 2013

#2

Jakarta, 11 September 2013






...

You entered the room

Everybody talking, asking, questioning

You have just stopped there, didn't say anything

This is called as d*mb ?

...


Picture taken from google, #then combine
 


**Ps : for me this is what we called as - G A T H E R I N G

Selasa, 10 September 2013

#1

Jakarta, 10 September 2013


picture borrowed from here


...

How if you have to do something opposite with voice of your heart

Label with D*mb

Under egoism of an old-toy

...